Pantai Bantol; yang belum banyak dikenal…

Pantai Bantol

Dari sekian banyak pantai di wilayah Malang Raya, Pantai Bantol mungkin belum banyak dikenal oleh wisatawan lokal maupun dari luar. Pantai ini terletak di sebelah Timur Pantai Ngliyep, Desa Banjarejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Infrastruktur jalan dan sarana menuju pantai ini belum digarap secara serius sehingga menjadi kendala utama dan penyebab pantai ini tidak banyak dikenal dan belum menjadi tujuan wisatawan seperti tetangganya yaitu Pantai Ngliyep.

Pantai ini juga berada sangat jauh dari perkampungan penduduk meski di dekat pantai terdapat segelintir rumah. Pengunjung pantai ini selama ini hanyalah para peziarah yang datang ke pesanggrahan di waktu-waktu tertentu, nelayan, kelompok pecinta alam, dan mereka yang punya hobby memancing.

Jalan menuju Pantai Bantol

Perjalanan menuju Pantai Bantol tidaklah mudah. Jalan makadam dari batu kapur dengan pecahan besar-besar dan tidak beraturan, serta jalanan dengan lumpur yang cukup dalam, benar-benar bukan sebuah jalan yang nyaman untuk dilalui. Tim kami kebetulan menggunakan mobil yang memang bukan untuk medan berat, sehingga harus rela terguncang-guncang dan berkali-kali menahan nafas saat akan melewati jalan dengan kondisi yang cukup parah.

Kondisi jalan menuju Pantai Bantol

Akhirnya, mobil kami pun terhadang oleh sebuah jalan dengan lumpur yang cukup dalam, dan kemungkinan terjebak di tengah lumpur sangat besar. Akhirnya mobil ditepikan di pinggir jalan dan kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 6 km.

Pohon coklat juga banyak terdapat di daerah ini

Di sepanjang perjalanan kami melewati hujan jati dan hutan pantai tropis. Beberapa kali pula kami berpapasan dengan truk yang mengangkut singkong atau pisang.

Trail yang digunakan penduduk lokal

Kadang kami juga bertemu dengan beberapa pemancing atau penduduk lokal yang mengendarai sepeda motor jenis trail atau sepeda motor biasa yang sudah dimodifikasi hingga mirip trail. Jalan berlumpur dan batu-batu kapur besar yang dijadikan landasan jalan makadam memang hanya layak dilewati oleh kendaraan-kendaraan yang pantas seperti sepeda motor hasil modifikasi tersebut.

Menjelang sampai di pantai, hamparan sawah hijau yang begitu subur membuat hati kami terhibur sejenak setelah cukup lelah menempuh perjalanan naik-turun yang menguras banyak tenaga. Menurut salah seorang tim kami, sekitar dua puluh tahun yang lalu, jalan menuju Pantai Bantol hanyalah berupa jalan setapak, dan bukan jalan selebar lebih kurang 3 meter seperti saat ini. Daerah di sini sangat kaya dengan hasil perkebunan singkong dan pisang. Hal ini dapat kami lihat dari tumpukan singkong dan pisang yang begitu banyak tertimbun di tepi-tepi jalan.

Hamparan sawah di dekat Pantai Bantol

Pantai Bantol sebenarnya adalah sebuah teluk, yang dipagari oleh gugusan karang sepanjang garis teluk sehingga ombaknya tidak terlalu besar. Saat kami tiba di lokasi kebetulan air sedang surut sehingga kami bisa menyusuri pantai dengan bebasnya.

Danau air payau di Pantai Bantol

Di sini juga terdapat danau air payau yang merupakan muara beberapa sungai kecil yang mengalir dari hutan jati dan hutan pantai tropis di sekitarnya. Airnya berwarna kehijau-hijauan. Letak danau kecil ini bersebelahan dengan laut bebas, di balik gugusan karang, sehingga dapat dipastikan jika air sedang pasang, pastilah seluruh danau akan terisi air asin dari laut.

Suasana di Pantai Bantol menjelang senja

Suasana teluk pantai Bantol ini sebenarnya cukup indah. Sinar mentari yang memantul di permukaan air, pohon bakau, gugusan karang, perahu nelayan yang sedang ditambatkan, danau air payau yang bersebelahan dengan laut, dan sunset, merupakan unsur-unsur keindahan dari pantai ini.

Jalan menuju Pesanggrahan "Mbah Dio"

Di Pantai Bantol, juga terdapat Pesanggrahan “Gunung Kembar” yang terletak di karang yang menjorok ke laut. Pada bulan-bulan tertentu pemandangan sunset dari karang ini sungguh indah. Pesanggrahan ini ramai dikunjungi oleh peziarah dengan berbagai tujuan, terutama untuk menyepi. Pesanggrahan ini telah berbentuk semi permanen dengan lantai semen dan tangga batu kapur. Pembuatan Pesanggrahan ini adalah atas inisiatif  Mbah Dio sesepuh dusun setempat. Pesanggrahan ini terletak di atas sebuah karang (seperti sebuah tanjung) yang membatasi Teluk Bantol pada sisi Timur, dari Pantai Bantol jaraknya kurang lebih dua ratus meter. Dari tempat ini bisa diperoleh pemandangan laut lepas dan batas-batas garis pantai dari ufuk Timur hingga ke arah matahari terbenam.

Pantulan sinar mentari yang begitu indah

Bagi kelompok Pecinta Alam atau yang punya kegemaran menelusuri gua, di sekitar hutan jati banyak terdapat gua batu kapur. Tentunya hal tersebut adalah sisi lain dari Pantai Bantol yang dapat menambah nilai plus dari pantai ini. Singkat kata, pantai ini sudah waktunya untuk dipoles secara serius karena banyak hal-hal yang menarik serta untuk menambah satu lagi koleksi tujuan wisata pantai yang mudah dijangkau. Mungkin dengan dibukanya tempat ini sebagai tujuan wisata, ekonomi penduduk di sekitar wilayah pantai juga dapat terangkat.

Hari menjelang gelap, dan kami pun suka tidak suka harus meninggalkan Pantai Bantol mengingat perjalanan kami yang cukup panjang serta kami tidak ingin kemalaman di jalanan karena tak satu pun dari kami yang membawa alat untuk penerangan. Di tengah perjalanan pulang, salah seorang tim kami dicegat oleh seorang ibu yang sedang berdiri di tepi jalan. Rupa-rupanya sang ibu ini bersimpati terhadap kami. Dan sang ibu tersebut memberi kami hadiah berupa satu sisir pisang yang cukup besar dalam sebuah tas plastik. Kami berterima kasih kepada ibu tersebut. Satu bentuk keramahan dan keakraban khas masyarakat desa yang mungkin sudah tidak kita dapat lagi di kota.

Menorehkan nama sebagai kenangan

Hari bertambah gelap. Langit tampak mendung muram. Di depan,  jalan naik-turun masih menghadang. Jika tiba-tiba hujan turun, maka satu-satunya pengganti payung hanyalah daun-daun pisang yang begitu jamak di sepanjang jalan. Beberapa penduduk lokal yang lewat dengan menggunakan sepeda motor khusus, menawari kami untuk menumpang, akhirnya dua dari anggota kami menerima tawaran tersebut, sementara sisanya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Setelah lebih kurang satu jam kami berjalan, akhirnya kami pun sampai di mobil kami. Tapi itu bukan akhir perjalanan, karena kami masih harus, sekali lagi, terguncang-guncang di atas jalan makadam yang cukup ekstrim untuk sampai di jalan raya utama. Semuanya indah pada akhirnya.

***


Lihat Peta Pesona Malang Raya di peta yang lebih besar

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.
7 Responses
  1. denmas bagong says:

    Saya sekita tahun 1985/6 pernah kepantai ini. suasana sama seperti difoto ini.

  2. jalan e ngerii,, padahal pantai e bagus.. thanks info na..
    bisa dicoba ntuh..^_^

    • Pesonamalangraya says:

      Kalau musim panas kondisi jalan masih lumayan, minimal tidak khawatir terjebak lumpur. Gak ada salahnya mencoba sebelum hujan turun.

  3. kimble says:

    ky nya lebih baik seperti itu saja, termasuk infrastruktur khususnya akses atau jalan. Semakin besar perjuangan menuju ke sana memberikan kontribusi pada keaslian ekosistemnya.

  4. setyo says:

    harus ada perhatian dari pepemrintah dalam upaya konservasi mangrove untuk pelestarian pantai bantol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

WP-SpamFree by Pole Position Marketing