Gebyar Acara Tujuh Hari Berturut-turut di BTC (Batu Tourism Center)

BTC

Gebyar pembukaan sekaligus peresmian Batu Tourism Center atau BTC yang terletak di Jl. Kartini Kota Batu tidak kalah meriahnya dengan peresmian Alun-alun Kota Batu dan Gedung Kesenian “Mbahtu Aji Art Center.” Ribuan pengunjung dan juga masyarakat Kota Batu sudah memadati area BTC mulai dari siang hari untuk menyaksikan acara pembukaan dan peresmian tersebut. Bapak Wali kota Edi Rumpoko diarak dengan menggunakan dokar dari Gedung Kesenian menuju BTC.

Seni Tari Tradisional "Kuda Lumping" yang Menyambut Kedatangan Walikota

Sekitar pukul lima sore, rombongan Bapak Wali kota tiba di lokasi disambut oleh tarian tradisional “Kuda Lumping” dan serangkaian acara seremonial sebelum penandatanganan prasasti peresmian.

Pemuda-pemudi yang Mengenakan Kostum "Aneh"

Kedatangan rombongan Bapak Wali kota diawali dengan kedatangan beberapa pemuda-pemudi yang mengenakan kostum yang begitu menarik dengan ciri-ciri hiasan kepala dan sayap yang begitu mencolok. Konon kostum ini berasal dari daerah Brazil sebagai tiruan dan improvisasi dari pakaian adat  suku-suku Indian kuno. Kostum seperti ini biasanya juga dikenakan pada saat diadakan Festival Bunga di Pasadena – Amerika Serikat.

Bapak Edi Rumpoko sedang berbincang dengan seorang pedagang

Setelah acara penandatanganan, rombongan Bapak Wali kota meninjau BTC sebagai pusat kuliner, oleh-oleh, tanda mata, pakaian, serta aksesoris. Bapak Edi Rumpoko yang pada waktu itu menggunakan setelan baju putih lengan panjang tersebut terlihat santai sambil sesekali mengajak dialog para pedagang. Ibu Dewanti Rumpoko yang pada saat itu juga hadir, berjalan berkeliling menyapa dan bercanda dengan para pedagang. Bapak Edi Rumpoko akhirnya tampil sebentar di panggung musik “Campur Sari” untuk memberikan salam dan lambaian tangan kepada seluruh pengunjung BTC, berjoget sedikit lalu turun dari panggung.

Ibu Dewanti Rumpoko sedang berkeliling BTC

Pentas “Campur Sari” hanyalah awal dari serangkaian acara yang digelar di BTC selama tujuh hari seperti Orkes Dangdut, Wayang Klebet, Keroncong, Lomba Mewarna, Pergelaran Tarian Budaya, Pentas Pengamen Jalanan, Parade Musik, Kuda Lumping, Reog dan sajian Wayang Kulit sebagai penutup dari seluruh rangkaian acara.

 

Pentas Musik Campur Sari

Sejak dari dulu kala, para pedagang makanan, pakaian, dan aksesoris yang bertebaran di Jl. Kartini, Jl. Munif, Jl. Sudiro dan depan GOR Ganesha Kota Batu memang tidak pernah memiliki tempat yang permanen. Saat malam memang di jalan-jalan tersebut terlihat semarak dan ramai karena kehadiran para pedagang, namun di pagi hari bedak-bedak tersebut teronggok di beberapa tempat sehingga terkesan kumuh dan mengganggu keindahan kota. Mungkin karena pertimbangan itulah maka pemerintah Kota Batu kemudian membangun BTC dengan tujuan agar semua pedagang dapat terpusat di satu lokasi sehingga memudahkan para pengunjung yang ingin berbelanja pakaian, tanda mata, oleh-oleh, atau sekadar ingin berwisata kuliner dengan aneka makanan dan minuman yang dijajakan di BTC. Tentu saja, sesuai dengan namanya yaitu Batu Tourism Center, maka diharapkan tempat ini akan benar-benar menjadi tujuan wisatawan yang menghabiskan liburan dan akhir minggu di Kota Batu sebagai kota wisata.

Beberapa Pedagang yang Sudah Pindah ke BTC

Namun tampaknya maksud baik pemerintah ini tidak disambut baik oleh semua pedagang. Hal ini terbukti dengan adanya pedagang yang tetap memilih untuk berjualan dengan tenda-tenda plastik dan gerobak-gerobak dorong yang saat ini ditampung di tanah kosong di sebelah barat daya alun-alun kota. Para pedagang ini bukannya tidak kebagian tempat di BTC, namun memang mereka lebih memilih tetap menjadi pedagang kaki lima daripada harus pindah ke BTC dengan berbagai macam alasan. Tentu saja masalah seperti ini harus segera dicari solusinya agar keindahan dan ketertiban kota tetap bisa dipertahankan.

Deretan Kuliner Dilihat dari atas

Kota Batu yang merupakan sentra wisata di wilayah Malang Raya, memang terus berbenah. Hotel-hotel baru mulai bermunculan dengan gaya dan fasilitas modern. Jalan-jalan utama menuju Kota Batu diperlebar dan diperhalus, serta lampu penerangan jalan diperbanyak. Dalam pandangan kami, nantinya pusat-pusat wisata tidak akan terpusat di satu lokasi saja, namun dipecah-pecah di beberapa lokasi, hal ini bisa dilihat dari mulai dibangunnya sebuah Mall dengan nama Batu Town Square yang terletak di Jl. Diponegoro. Untuk memenuhi kebutuhan para seniman lokal, Pemkot Batu juga mendirikan sebuah Gedung Kesenian yang terletak di Jl. Oro-oro Ombo dengan nama Mbahtu Aji Art Center. Tentunya gedung ini nantinya akan menjadi wadah bagi seniman lokal untuk memamerkan hasil karyanya atau untuk bereskpresi di atas panggung.

Rencana Bentuk Mall Batu Town Square

Semoga Kota Batu semakin layak, pantas, dan nyaman sebagai sentra wisata di wilayah Malang Raya.

***

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

WP-SpamFree by Pole Position Marketing