Festival Malang Kembali VI

Poster FMK 2011

Acara tahunan di Kota Malang yaitu “Malang Tempo Doeloe” kembali digelar di Jl.Besar Ijen sepanjang kira-kira 2 km. Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara yang digelar dari tanggal 19 s.d. 22 Mei 2011 ini digelar sebagai upaya untuk melestarikan dan mengenang kembali budaya tempo dulu yang pernah ada di Kota Malang.

Suasana Festival Malang Kembali saat masih sepi pengunjung

Tahun ini acara mengenang “Malang Tempo Doeloe” atau masyarakat kota Malang lebih sering menyebutnya dengan MTD bertajuk “Festival Malang Kembali (FMK) VI.” Tidak terasa acara ini sudah digelar untuk yang ke-6 kalinya. Festival kali ini mengusung tema “Discovering Heritage,” dengan tema ini Yayasan Inggil selaku salah satu dari tiga pihak penyelenggara acara yaitu Dinas Pariwisata dan PT Bakrie Telecom, bermaksud agar pengunjung dapat mendalami lebih jauh kekayaan warisan sejarah budaya Malang antara tahun 900 hingga 1947 dengan mengikuti berbagai acara, seperti tur budaya, kuliah umum, kelompok belajar, workshop, gelar tradisi, dan pasar rakyat.

Bapak Walikota Kota Malang saat membuka acara FMK VI

Acara yang dibuka oleh Bapak Walikota Malang Drs. Peni Suparto dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Ipul dan beberapa pejabat tinggi lainnya di Aula Perpustakaan Umum Kota Malang ini dimeriahkan dengan pementasan ketoprak gabungan “Pakarmaya” dengan lakon “Babadan Singosari.

Replika Benteng Malang tahun 1767

Dalam acara kali ini panitia menyediakan 520 stan, yang menyajikan makanan tradisional di masa lampau, kerajinan, batik, barang antik, dan jasa tradisi. Selain itu, juga akan dipentaskan berbagai kesenian tradisional. Yang paling menyolok adalah adanya replika sebuah benteng tahun 1767 dengan tiga lantai. Menurut catatan sejarah, Benteng ini merupakan benteng pertama di Jawa Timur yang pernah didirikan di area Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, pada tahun 1767.

Diorama

Selain itu, panitia juga menyajikan diorama tiga dimensi terbentuknya Pemerintahan Kota Praja Malang. Diorama yang terbuat dari fiber ukuran 170 sentimeter itu dibuat berdasarkan foto peristiwa perubahan Kabupaten Malang yang tadinya berada di wilayah Karesidenan Pasuruan menjadi Kota Praja Malang.  Pengunjung juga disodori sejarah pemerintahan melalui visualisasi tiga dimensi, yakni dengan membuat patung pegawai pemerintahan, pelayan masyarakat, hingga pejabat pemerintah di masa kolonial Belanda memakai pakaian dinas.

Makanan tradisional yang masih bisa kita temui di pasar

Dari ratusan stan makanan yang berjajar disepanjang jalan Ijen, memang sebagian besar menyajikan jenis makanan yang membuat pengunjung dibawa kembali ke masa lalu seperti: tebu yang dipotong bulat-bulat dan ditusuk dengan batang bambu kecil, gulali, gula kacang / ampyang, brondong yang dibungkus kertas berbentuk kerucut, moho serta jajanan pasar seperti kucur, lemper, jadah, getas, jenang sumsum, jenang grendul, es gandul dan masih banyak lagi. Namun ada juga beberapa stan yang menyajikan jenis makanan modern yang sebenarnya tidak sesuai dengan suasana “Malang Tempo Doeloe.”

Tempat makanan yang sudah jarang kita temui di kota besar

Tempat makanan untuk penyajiannya juga menggunakan alat-alat makan kuno seperti kendi, tembikar, cobek, dan juga tempat es yang terbuat dari besi. Barang-barang tersebut kini sudah sangat jarang kita lihat lagi.

Ada juga stan yang memamerkan koleksi benda-benda kuno seperti radio, mesin jahit, globe kuno, meja kursi, foto-foto zaman dulu serta sebuah sepeda pancal kuno yang dijual dengan harga 30 juta. Beberapa stan mencoba untuk menarik pengunjung dengan menjual kaos-kaos oblong dengan gambar Malang Tempo Doeloe yang cukup bagus.

Komedi Bedes

Ada satu lagi tontonan yang sudah sangat jarang kita saksikan pada zaman sekarang terutama bagi mereka yang sudah meninggalkan Kota Malang yaitu, “Tandak Bedes / Komedi Bedes.” Dalam tontonan ini kita akan menyaksikan seekor monyet yang sudah dilatih untuk melakukan beberapa aksi seperti naik sepeda pancal kecil, belanja sambil memegang payung, menari dengan menggunakan topeng, dan aksi-aksi lain yang sangat lucu. Sang pawang biasanya mengiringi aksi si monyet dengan terus memukul-mukul sebuah genderang tradisional dengan irama monoton.

Pedagang "Kerak Telor"

Penjual “Kerak Telor” juga begitu banyak mengisi celah-celah kosong diantara stan-stan dan di tepi-tepi jalan. Makanan yang berbahan dasar beras ketan putih dan telur ayam ini adalah makanan khas daerah Betawi yang ikut meramaikan atau mencoba menangkap peluang di tengah ramainya pengunjung Malang Tempo Doeloe. Surat kabar harian “Kompas” terbitan tgl.20 Mei 2011 juga memberitakan bahwa penjual “Kerak Telor” juga banyak ditemui dalam acara Festival Budaya “Isen Mulang” di Lapangan Sanaman Mantikei, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang berlangsung dari tanggal 19 s.d. 24 Mei 2011.

Dokar yang disiapkan untuk melayani pengunjung

Acara Festival Malang Kembali yang digelar di Jl.Ijen sepanjang 2 km ini, memang cukup melelahkan bagi mereka yang tidak terbiasa jalan kaki, namun hal ini tidak menjadi masalah yang berarti karena panitia telah menyediakan “Dokar / delman” yang siap mengantar anda mengitari jalan Ijen dengan membeli tiket seharga sepuluh ribu rupiah. Dengan menaiki dokar ini, disamping kaki anda tidak akan terlalu capek, anda juga bisa bernostalgia berkeliling kota dengan menggunakan dokar. Bagi anda yang dibesarkan di kota, mungkin ada diantara anda yang belum pernah sekalipun merasakan naik dokar. Kendaraan tradisional ini kian hari kian tersisih ke tepi-tepi kota atau bahkan sudah pindah ke desa-desa.

Dari 520 stan yang disediakan panitia, bisa dikatakan hampir 75% diisi oleh stan makanan, sekitar 15% stan pakaian, 5% stan buku dan benda-benda kuno, dan sisanya barulah stan-stan yang memperkenalkan obyek wisata, pendidikan, dan budaya. Dalam pandangan kami, harusnya stan-stan semacam itu jumlahnya bisa lebih banyak sehingga tidak berkesan hanya sebagai pelengkap.

Jadwal & Denah stan dalam acara FMK VI

Di sepanjang acara ini, pengunjung dihibur oleh beberapa tontonan seperti Band yang bernuansa tahun 70’an, Kesenian Pencak Silat, Ludruk, Musik Keroncong, dan aneka tarian.

Akhirnya kami mengharap agar mutu dari acara ini semakin bisa ditingkatkan sehingga tidak hanya berkesan monoton. Selamat untuk suksesnya acara Festival Malang Kembali VI.

***

 

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Spam Protection by WP-SpamFree