Festival Gebyak Bantengan Nuswantara ke-4 di Kota Batu

Logo Banteng

Pada hari Minggu tanggal 22 Mei 2011, Kota Batu kembali menggelar Festival Gebyak Bantengan Nuswantara yang ke-4. Sebanyak 34 grup dari berbagai grup kesenian bantengan se-Malang Raya dan juga beberapa kota tetangga seperti Kediri, Mojokerto, dan Jombang berekspresi memamerkan kebolehannya di tengah-tengah Kota Batu. Adapun tema festival kali ini adalah “Kidung Harmoni,” sebuah ungkapan dimana pada zaman sekarang manusia mulai asing dengan keharmonisan, baik itu harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dengan alam lingkungan dan harmoni kepada leluhur.

Bantengan adalah sebuah kebudayaan komunal yang melibatkan banyak orang di dalam setiap pertunjukannya. Seperti sifat Banteng yaitu hidup secara berkelompok. Dalam seni pertunjukan banteng, berbagai unsur seperti tari-tarian, pencak silat, musik, dan syair/mantra/suluk dilebur menjadi satu kesatuan. Dalam setiap pertunjukannya, selain terdapat seekor atau lebih Banteng liar, juga terdapat Macan. Banteng-banteng yang sering dianggap sebagai simbol dari rakyat kecil ini, berjuang melawan Macan sebagai simbol penjajah. Ada satu tokoh hewan lagi yaitu Monyet yang suka menggoda Banteng dan Macan. Monyet di sini melambangkan Provokator.

Banteng sebagai simbol yang mewakili rakyat kecil

Kesenian Bantengan hingga saat ini masih terjaga eksistensinya terutama di masyarakat pedesaan dan kelompok Pencak silat yang berada di sekitar lereng Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi dan Raung-Argopuro Jawa Timur, serta di beberapa daerah di pulau Jawa. Sementara di daerah perkotaan, dapat dikatakan kesenian ini makin lama makin punah.

Pertunjukan banteng biasanya digelar dengan cara melepaskan banteng-banteng liar ini di sepanjang jalan dengan dikawal beberapa orang yang menjaga banteng-banteng ini agar tidak menyerang penonton. Biasanya para pengawal menjaga banteng dengan cara mengikat lehernya dengan dua atau empat tali untuk menahan gerakan liar dari banteng-banteng yang setiap saat bisa mengamuk. Tokoh Macan, biasanya gerakannya lincah dan selalu mencari gara-gara dengan banteng. Banteng yang tidak tahan dengan godaan Macan akhirnya mengamuk menyeruduk apa saja yang ada di sekelilingnya. Sementara tokoh monyet biasanya lincah berloncatan kesana kemari menghindari amukan banteng dan macan. Selama pertunjukan tersebut diiringi dengan lantunan musik tradisional seperti bonang dan gong yang dibunyikan terus-menerus dan monoton. Para pengawal banteng maupun pemain musiknya berpakaian serba hitam ala baju tradisional Madura dan mengenakan ikat kepala yang biasanya disebut dengan “Udeng.” Selama pertunjukan beberapa orang terus-menerus melecutkan cambuk ke udara dan ke jalanan, kadang cambuk-cambuk tersebut dilecutkan ke kakinya sendiri untuk menunjukkan bahwa mereka cukup kebal dengan cambuk tersebut.

Macan yang menjadi simbol "Penjajah"

Agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, festival kali ini banyak diikuti bantengan anak-anak, serta beberapa di antaranya banteng betina. Menurut Agus Tubrun selaku ketua panitia festival tahun ini, seperti yang dilansir dalam surat kabar “Memo Arema,” bantengan ini merupakan kebudayaan tradisional asli Indonesia. Malah, di beberapa daerah di Indonesia ini mempunyai ciri dan kekhasan tersendiri. Seperti di Kota Batu sendiri bantengannya mempunyai kekhasan sendiri dibanding dengan daerah tetangga seperti Pujon ataupun Tumpang.

Sesuai dengan temanya yaitu “Kidung Harmoni,” semoga kesenian bantengan ini benar-benar dapat membawa harmoni bagi masyarakat Kota Batu khususnya dalam usaha untuk melestarikan kesenian tradisional yang kian hari kian tersisih oleh budaya-budaya modern.

***

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

WP-SpamFree by Pole Position Marketing